


Pang paling enak klo ngerjain temen yg baru ultah, gyagyagya.....
palagi nyeburin d kolam ikan yg ai.... pokok"e intine kalo tu kolam buat miara ikan aja udah pasti ikannya pada mati dengan suksesnya, udah aernya gak ngalir, kotor, ai....
Pagi hari ditamana, tempat biasa asya duduk
“Hweeek….”
Seorang cowok datang menghampiri asya, tak begitu jalas karena posisinya yang membelakangi thara. Cowok itu memberinya seikat bunga berwarna merah, 10 tangkai mungkin lebih, dibungkus plastik dengan pita berwarana putih, mungkin mawar. Besujud didepan asya, sambil memegangi tangan asya seolah memohon sesuatu. Yah… tora, cowok tinggi kekar itu tora, thara ingat benar, thara pernah berpapasan dikampus. Sorot matanya begitu tajam menunjukkan keyakinan yang sangat bersar. Asya berdiri membelakangi cowok dan membuang bunga itu, terlihat seperti sedang terjadi pertengkaran. Hanya sebentar saja, tak perlu mengunakan lensa tambahan sudah cukup jelas terlihat mereka saling berpelukan. Kekawatiran didalam hatinya terjadi juga, cintanya benar-benar telah kandas direrumputan. Bukan hanya kakinya, seluruh badanya terasa lemas tanpa tulang, terasa begitu beratnya untuk menopangnya berdiri. Nafasnya begitu berat. Thara terduduk memeluk kedua kakinya, kepedihan hatinya membuatnya tak mempunyai tenaga lagi tuk menengadahkan kepalanya apalagi melihat asya yang berjalan dalam pelukan cowok lain melintas didepannya. Mungkin kalo ini sebuah sinetron, pasti terdengar soundtrack mengalun pelan mengiringi kisah cintanya, Bukan… Bukan hanya itu kamerapun akan beputar-putar dan daun-daun kering akan berjatuhan bersama angin buatan yang berhembus.
Tapi sayang sang sutradara tidak teriak “cut!”, kepedihan itu terus berlanjut menggantikan hari-hari indah thara.
Thara bejalan mendekati asya dan berdiri disampingnya.
“Sst…. Su…” Lidahnya terasa kaku, keras dan sulit tuk bicara. Detak jantungnyapun berdetak semakin cepat, lebih cepat dari bass drum lagunya Sheila on 7.
“Ss.. suka ya dengan anak-anak?” Akhirnya sebuah kalimatpun keluar dari mulut thara. Asya menoleh memperhatikan seseorang yang telah menyapanya. Asya tersenyum.
”Duduk ra…” Jawab asya.
“Pasti shara ya yang cerita kalo aq sering kesini?” Tambahnya, thara lalu duduk di samping asya. Pernyakitnya belum juga hilang hanya sedikit berkurang.
“Ra boleh nggak aku pinjam bahumu?” Pinta asya pelan. Belum juga detak jantungnya kembali stabil, asya sudah membuatnya kembali berdetak sangat cepat, dua kali lebih cepat dari yang tadi. Jika di cafĂ© seseorang akan berkata ampun DJ, tapi untuk thara, ampun asya, thara tlah dibuatnya luluh lantak tak berdaya dihadapannya.
“Hwekkk?” Thara kaget, asya memandang thara. Thara tidak pernah menyangka asya akan bicara seperti itu. Asya kembali memandanginya, kelopak matanya masih terlihat sedikit lembam mungkin karena terlalu banyak menangis. Thara menghela nafas panjang dan mengangguk. Menuntunnya ke pundak thara adalah mimpi tergila dalam hidupnya. Air matanya hangat mengalir di pipinya, tapi sayang air mata itu bukan untuk thara. Tangan asya begitu erat memeluknya sementara thara masi terdiam membisu. Bau harum rambutnya begitu menusuk hidung thara sementara tanganya terasa dingin dan gemetar. Thara tidak tau harus melakukan apa, cuma menikmati pelukan asya yang mungkin akan bertahan beberapa detik saja. Air mata asya mulai turun menetes membasahi baju thara, sesekali asya terisak. Thara sadar apa yang dilakukannya hanya membuat hati thara sakit, tapi thara tetap lakukan itu agar asya bisa tersenyum lagi. Asya melepaskan pelukannya dan berdiri depan thara, asya menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum. Asya membalikkan badanya sementara thara masih diam tak bergerak memandangi asya.
“Tau nggak aq paling seneng banget duduk disini, banyak pohon besar tumbuh disini, sejuk…. Aq suka banget melihat anak-anak bermain, bernyanyi, tertawa, begitu gembiranya mereka tanpa beban, aq pengen kembali menjadi kecil lagi.”
“Ikut aq…” Entah mendapat kekuatan dari mana, thara berjalan menghampiri asya.
“Ra… ke mana…?” Thara menarik tangan asya, dengan sedikit tertatih asya mengikuti thara yang menarik tangannya. Asya berdiri tepat didepan kelas.Terlihat riuh gemuruh anak-anak bernyayi ada yang bernyanyi dengan nada dasar A ada yang dengan nada dasar G. Cukup fals untuk didengarkan tapi cukup menyejukkan hati asya.
“Sebentar ya anak-anak…” Seorang guru dengan begitu ramahnya meninggalkan anak-anak menghampiri thara yang masih berdiri menggandeng tangan asya.
“Thara…?” Dengan sebuah senyuman yang begitu hangat seorang guru telah berdiri didepan thara.
“Ceweknya ya…?” Tambahnya.
“Oh bukan… hanya temen aja kok.” Jawab thara sambil melepaskan tangan asya. Ibu guru hanya tersenyum melihat kegugupan thara.
“Kenalin bu ini asya temen kampusq” Ibu guru yang masi terlihat muda itu tersenyum lagi dan menyalami asya.
“Nama yang cantik, seperti orangnya, oh ya… saya Ibu Seila.”
“Boleh kami bantu?” Tanya thara.
“Kebetulan… ibu seneng deh, lagian ibu lama nggak ketemu kamu ra, yuk masuk!” Bu seila mempersilakan masuk dan menggandeng asya.
“Anak-anak ibu kenalin ya ini ada kak thara dan yang cantik ini kak asya, hari ini kak asya dan kak thara akan bantu ibu..”
“Kak asya… sini bantu adit gambar kak…” Seorang anak duduk di tengah meminta asya untuk datang.
“Kakak batuin aq ya…” Seorang anak lagi telah berdiri disamping thara menggandeng tangan thara dan menarik ke mejanya. Terlihat begitu lepasnya asya tertawa, tersenyum bersama anak-anak, seolah tidak sedang membawa beban yang begitu berat dipundaknya. Walaupun itu cuman akan membuatnya tersentum untuk sesaat saja. Asya ngerasa takut banget untuk putus dengan tora, disis lain asya ingin jauh darinya. Bukan keinginan asya untuk selalu dalam bayang-bayang tora. Semenjak semeninggal ayahnya kehidupan perekonomian asya memang kurang baik dan bisa dibilang selama ini toralah yang membesarkan usaha ibunya secara tidak langsung tora sedikit banyak telah berperan dalam tulang punggung keluarga asya. Tanpa tora nggak mungkin jadi seperti saat ini, asya merasa berhutang budi dengan tora, asya sadar benar tora memang sangat keterlaluannya. Tapi kehadiran thara juga sedikit banyak telah membuat hari-hari asya semakin indah. Thara telah memberinya sebuah virus, sebuah virus yang telah membuat asya selalu tersenyum, sebuah virus yang telah membuat asya tak pernah absen untuk datang ke taman, sebuah taman yang selalu membuatnya tersenyum, sebuah taman yang selalu membuatnya kembali menjadi anak-anak. Asya selalu datang ke taman, walaupun tanpa thara yang menemaninya.
“Ra…” Teriak chika.
“Paan…..?” Chika menyalakan lampu. Banyak buku dan DVD masi berserakan dilantai, terlihat thara tiduran disamping tampat tidurnya.
“Dari mana kalian pada tau rumahq?”
“Tu adekmu yang cantik ke kampus kebingungan karena kakaknya ngurung dikamar.”
“Lagian kamu juga ngapain sih?”
“Orang nggak da papa kok!” thara nyolot.
“Gimana yang nggak ada apa2, lebih dari minggu kamu ngilang tanpa kabar, masi bilang nggak ada apa2. Cowok yang sama asya tu mang bener cowoknya, sori aq ngasih taunya terlambat, aq juga tau baru semalem dari shara” Jelas galih. Thara berdiri.
“Udah ra… mendingan lupain aja deh, cari yang laen, lagian kalo kamunya nggak ikutan kuliah, trus nilaimu ancur smester genap besok kamu bakalan sekelas mulu ma asya, sakit lagi kan liat dia terus, mendingan kmu serius gih, setidaknya kalo kamu gak isa nglupain ya, prof dikit dong bedain mana perasaan mana kuliah!” Bujuk galih ke thara. Sedikit perubahan mulai terjadi ma thara, tiap abis kuliah thara langsung balik, paling cuman sesekali nongkrong ma ibe dan galih. Thara mulai mencoba untuk berjalan tenang dan bahagia dalam bayang2 kepedihanya. Dua minggu berlalu thara masi belom balik ke dirinya lagi. Begitu juga asya jarang banget terlihat jalan bareng ma sahra lantaran sehabis kuliah cowoknya selau datang menjemputnya. Pemandangan berganti, thara yang biasa nongkrong bareng ibe ma galih digantikan shara. Selepas mata kuliah jam1 selesai thara ma galih nongkrong di kantin minus ibe. Ibe pergi entah kemana, cuman nitip absend.
“Ra kamu harus nolongin asya tuh, cuman kamu yang bisa!” Pinta shara dengan sedikit ngos-ngosan yang baru aja datang dengan menggandeng tangan ibe.
“Hwe… kalian?” Galih nunjukin ke tangan sahra yang ngegandeng tangan Ibe. Shara melepaskan gandengannya.
“Heh.. itu nanti ceritanya” Ibe mengalihkan pokok cerita.
“Iya ra, sebenarnya asya tu dah lama jalan ma tora cowoknya, tapi hubungan mereka nggak pernah harmonis mereka selalu bertengkar, putus nyambung mulu, karena tora orangnnya otoriter dan jelousan banget, makanya kalo kamu perhatikan asya selalu kelihatan murung dan tertekan banget” jelas shara.
“Tapi apa hubunganq dengan mereka” bantah thara.
“Ra… cuman kamu yang bisa nyenengin hatinya asya, sekarang asya ma tora baru bertengkar hebat-hebatnya, asya down banget ra...”
“Lalu?” thara masi nyela mulu.
“Semenjak asya ketemu kamu, dia jadi asya yang ceria lagi nggak murung-murungan kek dulu lagi, akhir-akhir ini kamu sering ngilang asya tuh nanyain terus ditambah lagi dia sering berantem ma tora, plisss ra….” Pinta shara. Asya sebenarnya nggak mau shara cerita tentang hubunganya dengan tora ke anak-anak, cuman asya nggak tega ngelihat asya yang selalu murung.
Thara masi terdiam dan belum mengambil satu keputusanpun, thara bingung kepediahan hatinya belum sirna benar, thara ngerasa belum siap benar untuk ketemu ma asya, ketakutan hatinya bakal sakit lagi jika ketemu asya selalu memnghantuinya, tapi disisi lain ini thara masi ada rasa sayang sama asya.
“Udah gih cepetan temuin asya, biasanya sih dia ada di taman bermain anak-anak deket rumahnya.” Pinta shara sekali lagi.
“Buruan gih…” Ibe menepuk pundak thara menyemangatinya.
Thara berangkat menemuin asya. Sekitar satu blok thara menuju taman bermain anak-anak dengan sepeda motornya.
Thara mendapati asya duduk ditaman, rambutnya yang panjang terurai begitu indahnya. Sorot matanya yang begitu lembut dan penuh keibuan tengah menadangi anak-anak yang telah bermain. Kaki thara mulai terasa begitu berat untuk digerakkan serasa ada sesuatu yang membebani kakinya. Entah kenapa penyakit ini selalu datang dalam kondisi seperti ini. Tak ada kompromi, tak ada negosiasi, datang tak tak diundang pulang se’enak sendiri.